sains tentang kebetulan

analisis statistik di balik pertemuan tidak terduga dengan orang lama

sains tentang kebetulan
I

Pernahkah kita sedang liburan jauh di kota lain, atau bahkan di negara lain, lalu tiba-tiba mendengar nama kita dipanggil? Kita menoleh, dan di sana berdiri teman SMP yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Jantung kita berdebar sedikit. Pikiran kita langsung berbisik, "Dunia sempit banget, ya?" atau "Wah, ini pasti takdir." Momen seperti ini terasa sangat magis. Seolah alam semesta sedang merencanakan sesuatu secara khusus untuk kita. Tapi, sebagai orang yang suka berpikir dan bertanya-tanya, mari kita bedah perasaan ini bersama. Apakah benar alam semesta repot-repot mengatur jadwal penerbangan atau rute jalan kaki kita hanya agar kita bisa bernostalgia? Ataukah ada rahasia lain yang lebih masuk akal, tapi tidak kalah menakjubkannya?

II

Secara psikologis, otak kita memang didesain untuk menjadi mesin pencari makna. Nenek moyang kita bertahan hidup dengan cara melihat pola di alam liar. Daun bergoyang berarti ada predator. Langit gelap berarti badai. Insting kuno ini membuat kita sangat benci pada ketidakpastian. Dalam psikologi, kita menyebutnya sebagai apophenia, yaitu kecenderungan otak manusia untuk melihat hubungan yang bermakna antara hal-hal yang sebenarnya acak dan tidak saling terkait. Tokoh psikologi terkenal, Carl Jung, bahkan punya istilah khusus untuk kebetulan yang terasa sangat bermakna ini. Ia menyebutnya synchronicity. Konsep ini sangat romantis dan membuat hidup terasa seperti skenario film. Tapi, jika kita hanya berhenti di penjelasan psikologis dan filosofis ini, kita akan melewatkan satu kenyataan yang paling brutal sekaligus indah. Sebuah kenyataan yang tersembunyi rapat di balik angka-angka statistik.

III

Untuk memahami misteri ini, mari teman-teman ikut saya bermain tebak-tebakan sejenak. Bayangkan kita sedang berada di sebuah ruangan berisi 23 orang acak. Berapa peluang ada dua orang di ruangan tersebut yang memiliki tanggal dan bulan ulang tahun yang sama? Kebanyakan dari kita mungkin akan menebak sekitar lima atau sepuluh persen. Logikanya sederhana, ada 365 hari dalam setahun, dan 23 orang adalah jumlah yang sangat sedikit. Namun, matematika tidak bekerja dengan intuisi biasa manusia. Jawaban sebenarnya adalah lima puluh persen. Ya, separuh peluang. Jika jumlah orang di ruangan itu ditambah menjadi 75 orang, peluangnya melonjak menjadi sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Fenomena ini dikenal dalam dunia sains sebagai The Birthday Paradox. Aneh, bukan? Otak kita memang terbukti sangat payah dalam menghitung peluang yang melibatkan banyak koneksi jaringan. Lalu, apa hubungannya tebak-tebakan ulang tahun ini dengan pertemuan tidak terduga kita di bandara tadi? Di sinilah statistik mulai membuka kedok sang takdir.

IV

Jawabannya terletak pada hukum matematika yang disebut The Law of Truly Large Numbers. Hukum ini secara tegas menyatakan bahwa dengan ukuran sampel yang cukup besar, hal-hal yang tampaknya sangat tidak mungkin pasti akan terjadi. Mari kita hitung secara kasar. Kita mungkin merasa bahwa kita hanya punya sedikit teman dekat. Tapi menurut sains, rata-rata manusia memiliki kapasitas memori sosial aktif sekitar 150 orang, yang dikenal dengan sebutan Dunbar's Number. Namun, jumlah orang yang pernah kita kenal sepanjang hidup—teman TK, mantan tetangga, teman dari teman, sepupu jauh—bisa mencapai ribuan orang. Sekarang, kalikan ribuan kenalan tersebut dengan ribuan lokasi yang mungkin mereka kunjungi, setiap hari, selama bertahun-tahun. Tiba-tiba, probabilitas pertemuan itu tidak lagi nol. Pertemuan di bandara itu terasa sangat langka karena kita hanya fokus pada "saya bertemu dia di sini hari ini." Kita lupa menghitung jutaan momen lain di mana kita tidak bertemu siapa-siapa dari masa lalu kita. Ketika sebuah kebetulan besar terjadi, itu bukanlah sebuah keajaiban kosmis. Itu murni karena tumpukan dadu probabilitas akhirnya menunjukkan angka yang sama setelah dilempar jutaan kali tanpa kita sadari. Sains membuktikan bahwa keajaiban itu sebenarnya hanyalah matematika yang sedang bekerja lembur.

V

Mungkin bagi sebagian orang, penjelasan statistik ini terdengar terlalu dingin dan kaku. Membedah takdir dengan kalkulator seolah merampas keajaiban magis dari pertemuan nostalgia tersebut. Tapi saya mengajak teman-teman untuk melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Mengetahui bahwa secara matematis kita pada akhirnya "ditakdirkan" untuk berpapasan dengan masa lalu kita, justru membuat dunia ini terasa lebih intim. Sains sama sekali tidak menghancurkan keindahannya, sains hanya menjelaskan mekanismenya. Jadi, ketika esok lusa kita kembali berpapasan dengan teman lama di tempat antah berantah, tersenyumlah. Nikmati debaran kejutannya. Traktir dia segelas kopi sambil bertukar cerita. Kita mungkin tidak perlu berterima kasih pada alam semesta atas kebetulan itu. Tapi kita bisa berterima kasih pada probabilitas, pada waktu, dan pada miliaran kemungkinan yang akhirnya memutuskan bahwa hari itu, di titik koordinat tersebut, kisah kita berhak untuk bersinggungan sekali lagi.